Dari Shopee ke Website Sendiri: Kenapa Penjual Indonesia Mulai Beralih
Kalau kamu jualan di Shopee atau Tokopedia sekarang, kamu pasti sudah merasakan hitungannya makin berat.
Tarif komisi terus naik beberapa tahun terakhir. Komisi standar penjual Shopee sekarang di kisaran 3–6% per transaksi, lebih tinggi untuk kategori tertentu. Tambahkan biaya payment gateway, dan kamu sudah melepas 5–9% dari atas sebelum mengeluarkan satu rupiah pun untuk iklan.
Lalu ada masalah iklan. Jangkauan organik di Shopee masih bisa diandalkan sampai sekitar 2022. Sekarang, algoritma sangat mengutamakan listing berbayar. Kalau kamu tidak menjalankan Shopee Ads, kamu tidak terlihat kecuali oleh orang yang memang mencari nama brand kamu. Biaya untuk tetap terlihat sudah menjadi pengeluaran operasional tetap — bukan opsional, tidak bisa dikembalikan.
Ini memang modelnya. Marketplace perlu memonetisasi trafik mereka, dan biaya penjual adalah caranya. Tidak ada yang salah dari itu. Tapi memahami modelnya membantu kamu memutuskan seberapa besar bisnis yang ingin kamu bangun di atas platform orang lain.
Apa yang Kamu Miliki vs Apa yang Kamu Sewa
Toko marketplace adalah lapak sewaan. Syaratnya ditentukan orang lain, dan bisa berubah.
Pada 2021, beberapa penjual Tokopedia ditangguhkan toko-nya tanpa peringatan setelah ada perubahan kebijakan. Pada 2023, Shopee menerapkan aturan kategori produk baru yang memaksa ratusan penjual kecil untuk relist seluruh katalog mereka. Platform yang memegang hubungan dengan pelanggan — kamu yang memenuhi pesanan, tapi Shopee yang punya data, ulasan, dan pembelian berulang.
Website sendiri berbeda. Email pelanggan adalah milikmu. Riwayat pembelian adalah milikmu. Kamu bisa kirim pesan follow-up, tawarkan diskon loyalitas, atau umumkan produk baru — tanpa harus membayar platform untuk hak itu.
Ini bukan keuntungan hipotetis. Inilah alasan brand direct-to-consumer ada. Hubungan dengan pelanggan berkembang seiring waktu. Di marketplace, setiap pembelian berulang terasa seperti akuisisi baru karena pelanggan menemukan kamu lewat Shopee lagi, dan Shopee mengambil komisinya lagi.
Keuntungan Nyata Punya Toko Sendiri
Nol komisi. Setiap penjualan masuk ke kamu, dikurangi biaya payment gateway (biasanya 1–2% dengan Midtrans atau Xendit) — jauh lebih rendah dari komisi marketplace.
Checkout via WhatsApp. Pembeli Indonesia sudah familiar dengan ini. Halaman produk dengan tombol order WhatsApp bisa convert dengan sangat baik, terutama untuk produk yang membutuhkan pertimbangan lebih di mana pembeli punya pertanyaan. Percakapannya jadi milikmu.
Fleksibilitas harga. Di marketplace, kamu sering dipaksa mengikuti flash sale dan diskon yang ditentukan platform. Di website sendiri, kamu yang kontrol strategi harga.
Persepsi brand. Website yang dirancang dengan baik memberi sinyal legitimasi yang tidak bisa diberikan oleh storefront marketplace. Untuk penjualan B2B, pembeli grosir, atau produk premium, punya website sendiri sering jadi syarat dasar.
SEO. Website sendiri bisa ranking di Google. Listing Shopee juga bisa, tapi kamu membangun otoritas domain Shopee, bukan milikmu. Jangka panjang, trafik organik ke domain sendiri adalah aset.
Keberatan yang Paling Umum
“Tapi Shopee sudah punya trafiknya.”
Ini benar, dan itu penting. Website baru tidak punya pengunjung sampai kamu membangun atau membeli trafik. Shopee punya 130 juta pengguna aktif bulanan. Itu keungguran yang nyata.
Jawabannya bukan meninggalkan Shopee. Jawabannya adalah menggunakan setiap channel untuk apa yang terbaik yang bisa dilakukannya.
Jalankan Keduanya — dengan Cara yang Benar
Marketplace adalah mesin discovery. Pembeli browsing, membandingkan, dan menemukan brand baru di sana. Website sendiri adalah tempat kamu menangkap nilai jangka panjang setelah seseorang tahu siapa kamu.
Setup yang praktis:
- Gunakan Shopee dan Tokopedia untuk jangkauan dan akuisisi pelanggan baru
- Arahkan pembeli berulang ke website sendiri melalui sisipan packaging, broadcast WhatsApp, atau pesan konfirmasi pesanan
- Tawarkan sesuatu di website yang tidak bisa diberikan marketplace: harga grosir, bundle deal, langganan, produk eksklusif
Begitu pembeli sudah memesan melalui website kamu sekali, ekonominya berubah. Mereka ada di sistemmu. Kamu bisa re-market ke mereka secara langsung, gratis.
Penjual yang paling berhasil membuat transisi ini tidak memperlakukannya sebagai “meninggalkan marketplace.” Mereka memperlakukannya sebagai memperluas distribusi — sambil memindahkan pelanggan terbaik mereka ke channel yang benar-benar mereka miliki.
Bagaimana Wujudnya dalam Praktik
Salah satu bisnis yang kami kerjakan di Pelita Studio menjalankan semua penjualan online mereka sepenuhnya melalui marketplace. Kami membangun website e-commerce custom dengan checkout WhatsApp, katalog produk yang sesuai dengan toko Shopee mereka, dan cara mudah bagi pembeli berulang untuk memesan langsung.
Dalam tiga bulan, 20–30% pesanan berulang datang melalui website — tanpa komisi. Marketplace tetap aktif untuk discovery. Website menangani sisanya.
Kamu bisa melihat setup serupa di pelitafortune.com, salah satu build klien live kami.
Kalau kamu sudah di tahap di mana biaya marketplace mulai menggerus margin dan ingin tahu apa yang dibutuhkan untuk membangun channel sendiri di samping itu, kami dengan senang hati mendiskusikan seperti apa itu untuk bisnis spesifik kamu.